Mujahadah
MUJAHADAH UNTUK MEMPEROLEH RIDHO ALLAH.
Mujahadah berasal dari kata Jaahada yang artinya adalah berjuang keras dengan sekuat tenaga.
Setiap kali kita mendengar kata jihad, selalu kita menghubungkannya dengan perang mengangkat senjata. Memang benar berperang(dgn mengangkat senjata) dijalan Allah adalah jihad fii sabilillah, akan tetapi berperang menggunakan senjata bukan satu2nya jihad fii sabilillah, bahkan perang ini menurut Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. adalah jihat kecil (shagir), sementara jihad besar(akbarnya) adalah perang melawan hawa nafsu kita sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh Beliau ketika selesai perang Badar, :” Kita baru saja selesai dari perang kecil menuju keperang yang lebih besar (memerangi hawa nafsu).” Perang Badar yang begitu besarnya karena saking banyaknya korban yg berjatuhan baik di pihak Rasul sendiri maupun di pihak musuh, ternyata hanya disebut perang kecil.
Banyak ayat2 yang berkaitan dengan jihad misalnya didalam Surat Hud ayat 41 Allah berfirman :” Wajaahiduu bianwalikum waanfusikum fii sabiilillahi dzaalikum khairulakum inkuntum ta’lamuun.” (Berjihadlah dengan harta kalian dan jiwa kalian di jalan Allah, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui )
Juga diayat lain Allah berfirman:” Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulana.” (Dan orang2 yang berjihad dijalan kami niscaya akan kami tunjukkan jalan2 kami kepada mereka).
Juga diayat lain Allah berfirman:” Walladziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulana.” (Dan orang2 yang berjihad dijalan kami niscaya akan kami tunjukkan jalan2 kami kepada mereka).
Setiap orang siapapun dia untuk mendapatkan ridho Allah harus bemujahadah/berjihad terlebih dahulu. Tidak ada didunia ini seorangpun yang ibadahnya, entah itu sholatnya, entah itu puasanya, santai2 saja, semaunya sendiri, tanpa bermujahaadah/berjuang keras sekuat tenaga, tiba2 dia mendapatkan ridho Allah.
Mari kita lihat orang yang bertaqwa yg disifatkan oleh Allah swt didalam Al Qur’an. Seperti apa sih orang yang bertaqwa itu? Apakah mereka tanpa bermujahadah bisa meraih gelar taqwa? Sudah barang tentu setiap orang yang telah meraih gelar taqwa pasti telah melaui perjuangan yg sangat keras/mujahadah.
Sebagaimana firman Allah didlm surat Al Baqarah dan surat Ali ‘Imran, maka yang dimaksud orang yang bertaqwa adalah :” Alladziina yu’minuuna bilghaibi wayuqiimuunashshalata wamimmaa razaqnaahum yunfiquun.” Walladziina yu’minuuna bimaa unzila ilaika wamaa unzila minqablika wabilakhirati hum yuuqiinuun.” Walladziina yunfiquuna fissarraa’I wadhdharraa’I wal kazhiimiinalghaizha wal ‘aafiina ‘aninnaasi wallaahu yuhibbul muhsinin.”
(Orang2 yang bertaqwa adalah orang2 yang beriman kepada yang gho’ib, dan mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian rizqi yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan orang2 beriman terhadap Al Qur’an yang diturunkan kepadamu(Muhammad) dan kitab2(Zabur,Taurat,Injil) yang diturunkan sebelum kamu, dan beriman kepada hari akhirat. Dan orang2 yang menginfakkan hartanya dalam keadaan lapang ataupun sempit, dan mampu menahan amarahnya ketika sdg marah, dan mau memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang2 yang berbuat ihsan). Itu semua tersebut diatas adl ciri2 orang yang bertaqwa. Jadi apabila pada diri seseorang terhimpun semua ciri2 tsb, maka dia adl org yang bertaqwa. Dari sini maka kita dapat bertanya kpd diri kt msg2 apakah kriteria2 tsb diatas sdh terhimpun dalam diri kita?. Kalau sudah….., sokur alhamdulillah. Kalau belum, maka marilah kita himpun ciri2 tsb dalam diri kita…, dan sdh brg tentu pasti hal ini hanya akan terwujud dgn bermujahadah.
(Orang2 yang bertaqwa adalah orang2 yang beriman kepada yang gho’ib, dan mendirikan sholat, dan menginfakkan sebagian rizqi yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan orang2 beriman terhadap Al Qur’an yang diturunkan kepadamu(Muhammad) dan kitab2(Zabur,Taurat,Injil) yang diturunkan sebelum kamu, dan beriman kepada hari akhirat. Dan orang2 yang menginfakkan hartanya dalam keadaan lapang ataupun sempit, dan mampu menahan amarahnya ketika sdg marah, dan mau memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang2 yang berbuat ihsan). Itu semua tersebut diatas adl ciri2 orang yang bertaqwa. Jadi apabila pada diri seseorang terhimpun semua ciri2 tsb, maka dia adl org yang bertaqwa. Dari sini maka kita dapat bertanya kpd diri kt msg2 apakah kriteria2 tsb diatas sdh terhimpun dalam diri kita?. Kalau sudah….., sokur alhamdulillah. Kalau belum, maka marilah kita himpun ciri2 tsb dalam diri kita…, dan sdh brg tentu pasti hal ini hanya akan terwujud dgn bermujahadah.
Dari kriteria2 tsb diatas, maka ada 9 sifat orang bertaqwa yaitu:
1.Beriman kepada yang gho’ib.
2.Mendirikan sholat.
3.Infak.
4.Iman kepada Al Qur’an.
5.Iman kepada kitab2 sebelumnya.
6.Beriman kepada hari akhirat.
7.Berinfak dalam keadaan lapang ayaupun sempit.
8.Mampu menahan amarahnya ketika dia marah sekali.
9.Mau memaafkan orang lain.
1.Beriman kepada yang gho’ib.
2.Mendirikan sholat.
3.Infak.
4.Iman kepada Al Qur’an.
5.Iman kepada kitab2 sebelumnya.
6.Beriman kepada hari akhirat.
7.Berinfak dalam keadaan lapang ayaupun sempit.
8.Mampu menahan amarahnya ketika dia marah sekali.
9.Mau memaafkan orang lain.
Marilah kita tinjau kriteria2 tsb diatas satu persatu, tapi saya akan mulai dari yang nomor 2 yaitu:” Wayuqiimuunashsholata.” Yaitu orang2 yang mendirikan sholat,krn sholat adl tiangnya agama.
Sudahkah kita mendirikan sholat? Apa sih yg dimaksud mendirikan sholat itu?
Menurut Moh ‘Alishshobuni didalam kitab tafsirnya(Shofwatuttafassir), beliau mengatakan bahwa orang yang mendirikan sholat adl : yu’duunaha ‘alaa wajhil’akmali bisyuruthihaa, wa arkaanihaa, wakhusyuu’ihaa, wa adaabihaa. (orang yang mendirikan sholat adalah orang yang melaksanakan sholatnya dengan berbagai macam kesempurnaan baik mengenai syarat2 sholat, dan rukun2 sholat, dan kekhusyu’an sholat maupun adab2 nya). Kmd menurut Ibnu ‘Abbas (salah seorang yang didoakan Rasul paham/pandai Al Qur’an) bhw yg dimaksud orang yang mendirikan sholat adl: Qiyamuhu bi itmaami ruku’ihaa, wasujuudihaa, watilawaatihaa, wakhusyuu’ihaa. (Mendirikan sholatnya dengan menyempurnakan ruku’nya, sujudnya, bacaannya, dan khusyu’nya). Itulah yg dimksd org yg mendirikan sholat.
Sudahkah kita mendirikan sholat? Apa sih yg dimaksud mendirikan sholat itu?
Menurut Moh ‘Alishshobuni didalam kitab tafsirnya(Shofwatuttafassir), beliau mengatakan bahwa orang yang mendirikan sholat adl : yu’duunaha ‘alaa wajhil’akmali bisyuruthihaa, wa arkaanihaa, wakhusyuu’ihaa, wa adaabihaa. (orang yang mendirikan sholat adalah orang yang melaksanakan sholatnya dengan berbagai macam kesempurnaan baik mengenai syarat2 sholat, dan rukun2 sholat, dan kekhusyu’an sholat maupun adab2 nya). Kmd menurut Ibnu ‘Abbas (salah seorang yang didoakan Rasul paham/pandai Al Qur’an) bhw yg dimaksud orang yang mendirikan sholat adl: Qiyamuhu bi itmaami ruku’ihaa, wasujuudihaa, watilawaatihaa, wakhusyuu’ihaa. (Mendirikan sholatnya dengan menyempurnakan ruku’nya, sujudnya, bacaannya, dan khusyu’nya). Itulah yg dimksd org yg mendirikan sholat.
Untuk menyempurnakan ruku’ dan sujud mungkin tidak ada masalah, tetapi bagaimana mengenai kesempurnaan bacaan kita dan kekhusyu’an kita didalam sholat? Padahal kita tahu bahwa Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa bacaan/tilawah termasuk salah satu syarat mendirikan sholat. Sudahkah kita mengucapkan bacaan/tilawah kita(dalam sholat) dengan baik dan benar? Dan mengetahui kata demi kata yang kita baca didalam sholat? Banyak orang yg belum dapat membaca dengan baik&benar akan tetapi tidak mau belajar dgn alasan malu. Tetapi anehnya tidak malu2 ketika mengucapkan bacannya tsb didalam sholat. Kenapa kita tdk lbh malu kepada Allah drpd kpd manusia? Padahal Allahlah yang paling berhak kita malu kepadaNya.
Untuk itu mulai sekarang marilah kita sempurnakan bacaan kita…,serta mengetahui kata demi kata yang kita baca dalam sholat kita dan inilah salah satu bentuk mujahadah kita.
Bilamana ada yang mau belajar, silahkan pintu rumah saya terbuka 24 jam bagi yang akan belajar Al Qur’an dengan gratis tidak akan dipungut beaya satu rupiahpun.
Kemudian persyaratan lain yang harus dipenuhi bagi seseorang yang mendirikan sholat adalah memelihara kekhusyu’an dalam sholatnya.
Menurut salah seorang ulama salaf, salah satu persyaratan sholat khusyu adalah Hudhurul qalbi (menghadirkan hati) didalam sholatnya, apa yang dimaksud dengan menghadirkan hati?
Yang dimaksud dengan menghadirkan hati adalah mengosongkan hati dari selain Allah. Biasanya hati orang itu hanya dipenuhi dengan hal2 lain yang hanya akan menjadi hijab/penghalang bagi seseorang untuk bisa khusyu didalam sholatnya. Karena hatinya hanya penuhi dengan dunia, entah itu berupa harta, jabatan, kedudukan, harga diri dan lain sebagainya. Bukan berarti kita tidak boleh urusan dunia, sama sekali bukan itu maksudnya, boleh kita berinteraksi/urusan dunia (bahkan ini diharuskan karena kita khalifah dimuka bumi ini) akan tetapi jangan sampai dunia tadi bersemayam/disimpan didalam hati kita sehingga hanya akan menjadikan kita lupa kepada sang Maha Pencipta ( Allah s.w.t.).
Ingat bahwa ketika hati kita terisi (apalagi penuh) dengan hal2 selain Allah, maka pada saat itu Allah akan meninggalkan hati kita, dan ketika hati kita sudah kosong dari Allah, maka sudah pasti yang akan masuk kedalam hati kita adalah syetan. Dan syetan selamanya tidak pernah dan tidak akan pernah mengajak kepada kebaikan, syetan selalu berusaha menjerumuskan kita kelembah kebinasaan.
Yang dimaksud dengan menghadirkan hati adalah mengosongkan hati dari selain Allah. Biasanya hati orang itu hanya dipenuhi dengan hal2 lain yang hanya akan menjadi hijab/penghalang bagi seseorang untuk bisa khusyu didalam sholatnya. Karena hatinya hanya penuhi dengan dunia, entah itu berupa harta, jabatan, kedudukan, harga diri dan lain sebagainya. Bukan berarti kita tidak boleh urusan dunia, sama sekali bukan itu maksudnya, boleh kita berinteraksi/urusan dunia (bahkan ini diharuskan karena kita khalifah dimuka bumi ini) akan tetapi jangan sampai dunia tadi bersemayam/disimpan didalam hati kita sehingga hanya akan menjadikan kita lupa kepada sang Maha Pencipta ( Allah s.w.t.).
Ingat bahwa ketika hati kita terisi (apalagi penuh) dengan hal2 selain Allah, maka pada saat itu Allah akan meninggalkan hati kita, dan ketika hati kita sudah kosong dari Allah, maka sudah pasti yang akan masuk kedalam hati kita adalah syetan. Dan syetan selamanya tidak pernah dan tidak akan pernah mengajak kepada kebaikan, syetan selalu berusaha menjerumuskan kita kelembah kebinasaan.
Maka dari itu agar kita dapat menghadirkan hati kita ketika sholat, maka kosongkanlah hati kita dari selain Allah, ketika hati kita sudah bersih dari berhala2 entah itu berupa harta, jabatan, gengsi dlsb, maka sudah pasti Allah akan hadir dalam hati kita, karena Allah sangat dekat dengan kita jikalau kita berusaha mendekatinya. Kalau Allah sdh dihati kita, maka sholat khusyu’ adalah mudah bagi kita.
Pengosongan hati dari selain Allah ini tentunya bukannya pekerjaan yg mudah, akan tetapi dengan bermujaahadah insya Allah hal tsb akan dapat kita laksanakan yang ujung2nya kita akan mendaptkan ridho Allah. bersambung!!
Pengosongan hati dari selain Allah ini tentunya bukannya pekerjaan yg mudah, akan tetapi dengan bermujaahadah insya Allah hal tsb akan dapat kita laksanakan yang ujung2nya kita akan mendaptkan ridho Allah. bersambung!!